05 Maret 2010
42 comments

Mobil dan EQ Anak

Jumat, Maret 05, 2010
Apa hubungannya, ya? Secara langsung memang tidak ada hubungannya. Tapi kalau kita ingin menarik sebuah hikmah dari sebuah kejadian atau pengalaman, tentu bisa dilihat sebuah hubungan. Dalam konteks melatih dan mengembangkan kecerdasan emosional (EQ) anak, ternyata kita bisa belajar dari kasus sebuah mobil.

Saya punya mobil merek KIA Sephia (Timor) warna coklat muda bikinan tahun 1996. Saya membelinya dari seorang kenalan pada Agustus 2006. Tujuan utama saya membeli mobil itu adalah untuk memudahkan istri saya yang sedang hamil enam bulan kala itu. Tak tega rasanya melihat istri saya berangkat dan pulang bekerja mengendarai motor sendiri dengan perut yang mulai membesar. Dia sudah tampak kerepotan mengatur jarak antara perut dan setir motor ^_^ Belum lagi dia harus melalui jalan bypass Bandara Juanda yang terkenal rawan kecelakaan. Saya waktu itu sudah berpikir sudah saatnya membeli mobil. Alhamdulillah, soft loan dari kantor cair. Jadi saya bisa segera beli mobil.

Alhasil, anak saya sudah terbiasa pergi naik mobil sejak lahir. Apakah pergi ke dokter, ke rumah eyang di Surabaya, ke rumah eyang di Madiun, ke tempat rekreasi, dan ke mall. Selalu naik mobil. Tidak masalah cuaca panas terik atau hujan. Selalu naik mobil. Dan tampaknya, anak saya mengasumsikan bahwa semua orang kalau bepergian pasti menggunakan mobil. Di matanya semua orang mempunyai mobil. Suatu hari, saat sedang berkunjung di rumah eyangnya dan mendapati eyangnya hendak pergi, spontan anak saya nyeletuk, “Eyang Ti mau pergi, ya. Lho, mana mobilnya?” Padahal, sang eyang kan tidak punya mobil.

Nah itu dia. Ucapan anak saya itu lumayan membuat saya tersentak. Untuk saat ini saya bisa maklum karena dia masih bocah batita. Tapi kalau keterusan, bisa-bisa dia menganggap bahwa tidak punya mobil berarti suatu hal yang ‘tidak semestinya’. Kalau sudah begitu, seorang anak kelak tumbuh menjadi sombong dan suka memandang rendah orang lain. Agar itu tidak terjadi, dia harus segera diarahkan ke jalur yang benar.

Hal itu sejatinya sudah menjadi perhatian saya sejak awal. Saya tidak ingin anak saya tumbuh menjadi anak yang tinggi hati. Dia harus tahu kalau orang tuanya juga orang biasa-biasa saja. Tak ada yang pantas disombongkan. Saya ingin EQ anak saya tumbuh dengan baik. Memiliki rasa simpati dan empati adalah hal yang ingin saya tanamkan ke anak saya.

Anda tahu yang saya lakukan? Di waktu senggang –terutama saat weekend- saya sering pergi berduaan dengan Rasha, anak saya itu. Kadang ke rumah ibu saya, kadang ke toko buku, dan kadang pula membeli makan ke depot. Naik mobil? Tidak. Saya selalu mengajak Rasha naik bemo (angkot). Bocah perempuan tiga tahun itu pun selalu tampak sumringah. Sepertinya dia merasakan sebuah variasi yang menyenangkan. Saya juga sering mengajak Rasha naik motor dan becak.

Tujuan saya jelas. Saya ingin Rasha tidak pilih-pilih sarana kendaraan kalau bepergian. Saya tidak ingin dia berpikiran: “Kalau tidak naik mobil, tidak mau!” Saya yakin ini bisa menjadi satu pembelajaran yang efektif untuk melatih EQ anak saya, pada level yang sederhana. Dengan begitu, diharapkan dia punya sense yang peduli dengan orang lain, tidak eksklusif.

Bagaimana dengan teman-teman, apakah punya pengalaman mendidik anak menumbuhkan EQ-nya? Atau bagi teman-teman yang belum berkeluarga atau belum dikaruniai momongan, mungkin ada pengalaman yang bisa dibagi ^_^

42 comments:

  1. Sesuatu yang berharga, yang tidak terpikirkan olehku, Nice Artikel!

    BalasHapus
  2. Trims sobat atas masukan yang berharga ini!

    BalasHapus
  3. gimana ya mas, lum punya nih (istri dan anak) hehehe, btw tips yg menarik tq dah berbagi :)

    BalasHapus
  4. kalau di indonesia banyak pilihan ya...
    disini? mmm ya begitulah...pilihan lain taxi, yg tertanam adalah rasa perlu menunggu...kalau naik bis lebih banyak tidak nyamannya karena berbeda dengan di tanah air.
    kalau di pulkam, ya naik bis, naik motor, naik andong...

    BalasHapus
  5. tidak semua ortu bisa seperti apa yg sudah dilakukan mas edwin.

    BalasHapus
  6. @ Nuances Pen dan Nuansa Pena - Trims juga mas Edi. Memang enak berbagi...

    @ Aulawi Ahmad - Hihihi jadi buruan nyusul mas...

    @ Narti dan Sda - Buat melatih anak Mbak supaya nggak manja...

    BalasHapus
  7. Nice posting mas edwin.
    untuk saat ini karena anak saya masih berusia 7 bulan, sudah terbiasa kalau bangun tidur langsung baik itu siang, malam atau pagi selalu melihat celana dalam nya. yang itu tandanya minta di "tatur" dalam bahasa jawanya.
    jadi alhamdulillah "ngompol sangat jarang".

    BalasHapus
  8. waduh masih belum punya istri apalagi anak hehe...
    tp menurut saya itu cara mendidik yg tepat dan kesannya tidak seperti menasehati...

    BalasHapus
  9. wah ... makasih Pak Edwin, suatu pembelajaran yang efektif, saya akan contoh.

    BalasHapus
  10. wah saluut buat bang edwin...
    tp bener cara bang edwin patut di contoh buat saya di masa mendatang... :D

    BalasHapus
  11. Sebuah kisah nyata yang menarik dari keluarga muda di kota besar. Anak adalah buah hati harapan orang tua. Anak yang pintar, patuh, menyayangi sesamanya, ceria dan hidupnya bahagia menjadi harapan orang tua. Disisi lain, tidak mudah mendidik anak di lingkungan dan kondisi yang sangat kompleks seperti saat ini. Solusi yang bagus. Trims sharingnya yang komunikatif.

    BalasHapus
  12. terimakasih atas shringnya, menarik sekali

    BalasHapus
  13. Edwin,
    Memang seorang anak harus dibimbing agar menjalani hidup ini apa adanya. Dengan demikian akan bijaksana kalau sudah dewasa.

    BalasHapus
  14. Mantap juga mas.., emang harusnya spt itu.
    Semoga anak-2 masa depan tak hanya mampu dimanjakan dengan kemewahan saja.

    BalasHapus
  15. betul sekali brader dari sekarang kita harus benar2 bisa memberikan pelajaran hidup sederhana kepada anak2 kita. saya sering tuh pergi ke toko buku sama anak saya yang bungsu, seperti biasa ada aja yang minta dibelikan buku (saya turuti, yang penting biar ada tambahan ilmu).

    cintailah anak-anak & kasih sayangilah mereka, bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberikan mereka rezeki. (HR Ath-thahawi)

    BalasHapus
  16. Artikelnya menarik gan,bisa jadi inspirasi !

    salam kenal ya gan !
    blognya saya follow yak !

    BalasHapus
  17. mampir nih mas, kunjungan rutin...

    BalasHapus
  18. berkunjung..ortu memang harus begitu...

    BalasHapus
  19. Saya jadi inget anaknya john travolta. Yang kemana-mana naik boeing 737 milik pribadi, disupiri sama sang ayah.

    Suatu kali ayahnya ndak bisa mengantarkan, istri dan anaknya pun naik pesawat komersil biasa. Si anak bilang ke ibunya:

    "Mommy, ini orang pada ngapain di kapal kita?"

    wkwkwk...dan itu beneran kejadian. :D

    BalasHapus
  20. Bener juga ya, ga pernah kepikiran sama saya :D
    Kalau anak saya ya kemana2 naik motor aja. Ya mungkin juga bakal nyeletuk kaya anak mas itu, sudah semestinya semua pake motor. Memang, ada baiknya jika mendidik sedari usia dini mas :)

    BalasHapus
  21. aq gak bisa share mas, cz aq lum nikah. tapi aq suka banget cara mendidik seperti ini. Membiasakan anak berperilaku sederhana tanpa menyombongkan diri.

    Salam kenal mas, ini kunjungan pertama saya di blog ini. Mase asli sby?

    Andrik Sugianto (Lumajang)

    BalasHapus
  22. Calon anak saya masih dalam kandungan mas, doakan sehat, share yg menarik. Makasih yach mas

    BalasHapus
  23. salam sobat
    Rasya anak cerdas mas Edwin,,jadi wajar saja kalau dia nyeletuk begitu.
    karena sesuatu yang bikin enak dan senang pasti dia menginginkannya.
    saya yakin, ngga jadi anak yang tinggi hati.

    BalasHapus
  24. setuju banget dengan caranya Mas Edwin...
    Kakak saya yang di Surabaya (di Ketintang tinggalnya) caranya juga begitu, mobil hanya dipake sekali2, anak2nya lebih sering pake umum dan motor... Keponakan2 saya sekolahnya malah jalan kaki, lumayan deket sih dari rumah.

    BalasHapus
  25. wah, seperti nya anda ayah yang baik dan mengajarkan nilai2 kehidupan yang benar kepada anak anda. saya blom berkeluarga, jd ga bs sharing cukup baca2 ajah dulu d. thanks sob sharing nya

    BalasHapus
  26. menarik juga gan infonya ,tereima kasih gan bbuat infonya salam kenala aja gan

    BalasHapus
  27. infonya bagus banget nich...! thanks for share.
    salam kenal ya...!

    BalasHapus
  28. artikelnya bagus banget..! thanks ya buat infonya...!

    BalasHapus
  29. wah bisa saja mengaitkan antara mobil dan emosi anak, jadi anaknya terbiasa naik mobil dan memandang kalo tidak punya mobil bukan hal yang biasa ia lakukan, untung orang tuanya cepat sadar kalau tidak mungkin anak itu tumbuh dengan rasa sombong di hatinya

    merupakan insprirasi yang berharga hanya dari mobil dan anak..

    BalasHapus
  30. Memang seharusnya kita tidak memanjakan anak sejak dini

    BalasHapus
  31. memang begitulah anak anak harus diberikan pengajaran positif karena apa yang sudah tertanam dari kecil akan berefek ke dunia dewasanya. Jika tidak di ajarkan atau dinasehati akan berlanjut ke arah pola berfikir yang negatif.

    BalasHapus
  32. terima kasih atas informasinya

    BalasHapus

 
Toggle Footer
Top