02 Maret 2010
37 comments

Sepi di dalam Keramaian

Selasa, Maret 02, 2010
Judul di atas mirip lirik lagu grup band Dewa, ya. “Di dalam keramaian aku masih merasa sepi…” Tanpa disadari, kita sering merasakan hal itu dalam kehidupan sehari-hari. Bukan dalam kaitan dengan permasalahan pribadi pada kasus per kasus, melainkan pada SIFAT kita sebagai individu secara umum.

Katakanlah, saya dan juga anda adalah para individu yang cukup memahami makna hidup sosial. Kita gemar membantu orang. Jika ada teman atau kerabat yang datang berkeluh kesah, kita pasti dengan senang hati membantunya. Bahkan, kita juga bisa menghampiri seorang pengemis yang ‘mangkal’ di ujung jalan bersama seorang anak, dan memberinya sejumlah uang.

Saya yakin, untuk urusan begituan, hati kita sering tergerak untuk melakukan sesuatu. Itu adalah sebuah dorongan jiwa, dan itu cukup membuktikan kalau kita ini bukan makhluk egois.

Tapi apakah anda yakin semangat sosial anda juga berlaku untuk contoh berikut ini? Ini adalah satu hal yang sering kita alami, atau setidaknya kita pernah melihat atau mengamatinya. Begini. Misalnya anda sedang mengendarai motor di jalan raya yang ramai, kemudian anda melihat ada dua motor bertabrakan tak jauh dari posisi anda. Akibatnya, mereka terjatuh ke aspal jalan raya. Apa yang anda lakukan? Spontan berhenti dan menolong korban? Belum tentu, lho…

Kebanyakan dari kita justru terus melaju meninggalkan TKP. Memang sih ada perasaan kasihan dan ‘menyesal karena tidak bisa menolong’. Tapi ya tetap ngacir. Atau kalaupun berhenti bukan untuk menolong, melainkan menonton. Waduh, memangnya pertunjukan?

Semua berebut menghindari memberi pertolongan. Tapi ajaibnya, SELALU ada satu atau dua orang yang benar-benar berhenti dan menolong korban. Motor yang terjatuh dipinggirkan, dan korban yang terkilir, lecet, atau tertindih motor dipapah ke tepi jalan.

Nah, itu dia. Yang diharapkan oleh mayoritas orang di jalan raya yang melihat kecelakaan itu adalah munculnya orang yang memberi pertolongan. Dengan begitu, kewajiban untuk membantu sesama yang sedang kesusahan menjadi gugur. “Ah, kan sudah ada yang menolong,” begitu pikir orang-orang di sana.

Lalu mengapa ya kok kita bisa menjadi begitu apatis kepada orang yang membutuhkan pertolongan darurat seperti ini? Padahal biasanya kita ringan tangan, suka berbagi, proaktif dan inisiatif membantu. Hmm, begini deh. Kita tidak perlu ‘merasa berdosa’ karena itu merupakan perilaku yang lumrah dilihat dari segi psiko-sosial. Dalam situasi seperti itu, orang kerap dilanda suatu krisis identitas yang disebut anomali. Kalau di kampus, misalnya, identitas kita jelas: ketua senat. Di rumah kos-kosan: mahasiswa perantauan yang bersosial. Di kantor: pegawai bagian akuntansi. Tapi di jalan raya: SIAPA SAYA?

Itulah yang pernah saya pelajari saat kuliah dulu, hehehe. Mumpung sekelebat muncul di pikiran, langsung saja dibikin postingan. Sayang kalau dibuang ^_^

Eh tunggu dulu. Bicara soal krisis identitas di situasi keramaian, saya pernah menjumpai sebuah kejadian lucu. Seperti semacam ‘antihipotesis’ dari uraian di atas. Suatu pagi saya berangkat kerja. Posisi saya masih di dalam kompleks perumahan saya. Saat hendak melewati sebuah sekolah dasar, tampak seorang bapak baru saja mengantarkan anaknya yang bersekolah di SD itu. Si bapak melaju bersama motornya sambil melambai ke arah si anak. Anda tahu tidak, secara spontan beberapa pengendara motor di belakangnya ikut melambai ke arah si anak. Tujuannya jelas hanya bergurau, tapi itu spontan terjadi. Setelah itu mereka kompak tertawa dan melaju masing-masing dengan motornya.

Dalam situasi yang anomali, ternyata hal seperti itu masih bisa terjadi, ya. Jadi bingung nih… ^_^

37 comments:

  1. Halo Edwin,

    Posting anda menggambarkan apa yang seringkali dialami oleh saya dan mungkin banyak orang lainnya dibanyak tempat di Indonesia.

    Kalau ada kecelakaan lalu lintas, pasti jalan jadi macet, karena pengendara lain memperlambat laju kendaraannya untuk menonton apa yang terjadi.
    Kalau begitu saya ambil positifnya dengan menganggap bahwa mereka melihat apakah sudah ada yang bantu belum, kalau belum mereka akan membantunya.

    BalasHapus
  2. judulnya mantap mas, pas banget dengan isinya, btw soal "kepedulian" itu menurutku tergantung sikonnya karena lagi di jalan. Dimana setiap orang lagi punya tujuan (entah itu penting atau tidak)tapi semua kembali ke individunya :) n aku juga pernah tuh sama temen waktu berangkat kerja naek motor, menyapa setiap orang di jalan (padahal gak kenal) dan hebatnya si orang secara repleks membalas sapaan kita sambil keheranan hehehehe

    BalasHapus
  3. memang seharusnya kita peduli akan hal2 kejadian tersebut diatas, hanya saja terkadang suka disalah artikan kita benar2 tujuan untuk menolong akan tetapi kita selalu dijadikan saksi dalam kejadian tersebut. padahal kita tidak tau sama sekali kejadiannya.

    tetapi semua itu tergantung dari diri kita masing2 akan niat tersebut.

    BalasHapus
  4. Artikel pencerahan yang oke! Keramaian adalah milik bersama, oleh karena itu kita harus menanggalkan identitas kita! Semua kedudukannya sama, bila ada yang dibantu ya dibantu, shadaqah kemereka yang biasa minta dijalanan silahkan!

    BalasHapus
  5. jalan raya bisa dijadikan potret prilaku masyarakat kita,kalo di jalan ada yg ketabrak terus kita cuek2 aja (walau ngga smuanya),atau Praktek penyerobotan jalur busway dan contoh2 yang lain itu menggambarkan potret masy kita yang panik..

    BalasHapus
  6. Aku jadi ingat dengan pengalaman temanku. Pernah dia menolong orang yang kecelakaan, tapi dia kemudian direpotkan dg urusan dari kepolisian. Dia yang kemudian dijadikan saksi dan sebagainya kemudian kapok dan sejak itu tak mau lagi 'berurusan' dg kejadian yg akan berbuntut pada kepolisian... hehehe

    BalasHapus
  7. Aku terus terang tak tahan melihat orang terluka, makanya aku selalu memilih utk menjauh.
    Kalau dalam kasus lakalantas sih aku berharap saja agar ada orang laen yg berbaik hati menolong sang korban... *tersipu malu*

    BalasHapus
  8. haduh bener tuh mas membantu harus sampai tuntas
    tp pernah ak liat kecelakaan jg cm liat doank abis wktu itu banyak yg bantu ak bingung mau nyelip dimana hehehehe :P

    BalasHapus
  9. Blog is really informative and entertainng same time.

    BalasHapus
  10. kalau saya karena menggunakan angkutan umum kalau lihat kecelakaan yaa lewat aja (biasnaya cuma mobil saling tubruk), saya belum pernah liat kecelakaan sampai panggil ambulans gitu..
    memang macetnya kerasa banget.

    BalasHapus
  11. Kalau nolong orang kecelakaan, butuh lebih dari peduli Mas, karena akan ada banyak pengorbanan yang harus dilakukan...mungkin inilah yang membuat orang ragu2 untuk menolong...

    BalasHapus
  12. malah jd bingung...
    lingkungan ikut membentuk karakter kita ya...

    BalasHapus
  13. bukannya tidak mau menolong, ada banyak pertimbangan kalau tidak berhenti menolong (ini pembenaran bukan ya?)
    seperti misalnya, tindakan apa yg mesti kita ambil apabila kecelakaannya begitu? bentuk kecelakaan kan berbeda2...

    BalasHapus
  14. Jiwa sosial seseorang belum tentu dimiliki dengan baik

    BalasHapus
  15. Pada dasarnya semua orang tergerak hatinya ingin untuk menolongnya, namun banyak hal yang menyebabkan dia enggan atau batal menolongnya. Manusia itu makhluk sosial yang unik. Kalau ada anak muda kebut-kebutan atau ugal-ugalan di jalan kemudian jatuh dari motornya, kami kira jarang orang mau menolongnya malahan disyukurin. Walau kasihan juga kita. Posting yang menarik sekali.

    BalasHapus
  16. ditempat saya lihat2 situasi dulu kalau nolongin orang yang kecelekaan. biasanya, kalau yang kecelakaan adalah orang yang ugal2an, agak lama baru ditolongin...

    BalasHapus
  17. mereka menghindar dari tanggung jawab menolong sesama.
    begitu mereka yg kecelakaan di jalan, mereka minta tolong melolong-lolong, tak ingat bahwa mereka dulu pernah menghindar dari menolong org lain.
    kebaikan hati yg terkikis
    terutama bagi yg punya mobil

    BalasHapus
  18. Hidup bersosial harus dimarakkan lg...Salam kenal Mas...

    BalasHapus
  19. situasi yg sama persis dirasakan oleh saya di kamar kosan, maklumlah anak rantau yang tidak ingi n segera pulang jikalau belum sukses.. makanya tiap orang memendam ke-tidak-punya-uangan-nya dan memilih untuk diam, karena merasa gak enak buat pinjam apalgi minta.. jadinya terkadang santei, trkdng serba salah, dsb.. namun jika serba ada, semua tak tanggung2 buat ngasih.. sobat-sobat yg keren dueh

    BalasHapus
  20. thx ya dah dipasang linknya, link kawan juga sudah dipasang..

    BalasHapus
  21. salam sobat
    memang benar mas,,saya juga pernah merasakan sepi didalam keramaian.
    dulu saya masih sekolah tinggal di Jakarta,ikut tante adik dari bapak saya.
    walaupun di kota Jakarta pusat keramaian,,tapi saya selalu merasa sendiri dan sepi.

    BalasHapus
  22. biasanya justru banyak yang berhenti hanya sekedar untuk melihat yang terjadi ...

    BalasHapus
  23. Lain dulu lain sekarang ya mas.. :)

    BalasHapus
  24. heheh bener banget mas, kadang kita memang merasa sepi meskipun dalam keramaian hikz hikzzz gak nyadar juga kenapa :D

    Blogwalking berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
    salam blogger
    makasih
    :D

    BalasHapus
  25. Hohohooh,,,

    udah lama banget gak main ke blog ini. Maklum udah beberapa lama jga agak sdikit males n bosen dengan blog. Jadinya menenangkan sejenak pikiran dan sekarang baru dateng lagi semangat ng-blog, blogwalking n komen blog.

    Wah kalo masalah yang kecelakaan dijalanan, otomoatis pasti bakal berhenti dan menolong. Tapi kalau sudah ada ambulans dan polisi yang dateng menolong, kayanya gak perlu juga saya berhenti dan mencoba menolong (yang ada malah membuat repot, slnya kalo kecelakaan gitu jangan terlalu bnyak orang yang ada disekitar buat nonton, yang ada si korban nanti kehabisan nafas karena sesak dikerumunin).

    Intinya sih, sebisa mungkin (harus) menolong orang yang membutuhkan pertolongan kita (sesuai kemampuan kita menolong juga).

    BalasHapus
  26. Saya pernah mengalami begini sob.. di depan saya ada yg ketabrak motor.. pengendara motor itu kabur.. saya berhenti dan menolongnya.. tahu2 masyarakat dan para pedang disekitar itu datang n rame2 mau mukulin saya.. dengan bahasa yg kasar sekali sambil nunjuk2 hidung segala dikira saya yg nabrak.. hehe..

    BalasHapus
  27. sepertinya rasa kepedulian/emphati sudah mulai luntur dan di tinggalkan. contoh nya keseharian yg sy lihat di busway. apabila ada ibu hamil yang berdiri kr tidak mendapatkan tempat duduk, reaksi penumpang yang lain bermacam2, ada yg pura2 tertidur ada yg pura2 melengos agar tidak melihat dan lain sebagainya tp inti nya dari 10 org yg melihat hanya ada 1 yg tergerak untuk memberikan tempat duduk nya untuk ibu tsb

    BalasHapus
  28. Kalau merasa ramai dalam kesunyian, itu bagaimana sob :D

    BalasHapus
  29. Kalau begitu hidup pasti suram sekali

    BalasHapus
  30. terima kasih atas informasinya

    BalasHapus

 
Toggle Footer
Top