14 April 2010
32 comments

Dua Generasi, Zaman Berubah

Rabu, April 14, 2010
Saya teringat masa bertahun-tahun yang lalu saat saya sedang menonton televisi bersama almarhum bapak saya. Saat itu kami sedang menonton acara olah raga yang dipandu oleh rapper Iwa K. Melihat gaya Iwa K, bapak saya protes. “Apa-apaan itu. Coba lihat, membawakan acara kok petingkrangan (gaya sesuka hati). Kaki pake naik sofa segala,” begitu kata bapak saya.

Saya pikir wajar kalau bapak saya protes. Yang beliau tahu, seorang host sebuah acara di televisi selalu berpenampilan formal dan parlente, dengan attitude yang dijaga. Contohnya: Koes Hendratmo, Kris Biantoro, Kang Aom, dan sebagainya. Hmm, TVRI banget ya :)

Tapi kini, para host di acara televisi maupun off-air didominasi anak-anak muda yang bergaya enerjik, cuek, dan semau gue. Contohnya: Okky Lukman, Raffi Ahmad, Olga Syahputra, Ruben, dan lainnya. Gaya seperti mereka terbukti laris di setiap acara di masa kini.

Saya juga teringat saat saya bergabung dengan sebuah klub sepak bola kala masih kelas 6 SD. Klub saya adalah Warna Agung Sidoarjo. Saya masih ingat saat mengenakan kostum berwarna ungu dengan nomor punggung 4 kebanggaan saya. Sebagai mantan pemain bola, bapak sering mewanti-wanti saya supaya bermain bola dengan benar, termasuk menghindari terkena hukuman kartu jika tidak terpaksa. Kartu kuning dan merah tampaknya benar-benar berfungsi sebagai punishment pada permainan sepak bola, waktu itu.

Tapi kini, pemain sepak bola justru sengaja mencari kartu kuning atau merah sebagai bagian dari strategi. Tujuannya agar ia absen di pertandingan berikutnya untuk menyimpan energi. Dengan demikian pemain itu bisa tampil fresh pada pertandingan berikutnya yang memang dinantikan olehnya. Biasanya, itu pertandingan big match yang mempunyai gengsi tinggi.

Tak tanggung-tanggung, yang memberikan ‘teladan’ untuk hal ini justru pemain level dunia. Adalah Daniel Alves dari klub Barcelona dan Xabi Alonso dari Real Madrid. Kedua pemain itu disinyalir sengaja mencari kartu kuning agar absen di pertandingan selanjutnya, akibat akumulasi kartu. Alves dan Alonso akhirnya bisa tampil di pertandingan berikutnya yang mempertemukan kedua klub raksasa Spanyol itu, dalam pertandingan bertajuk el classico pekan lalu.

Apa yang bisa saya tarik dari dua contoh kasus di atas? Saya merasakan betapa zaman sudah berubah hanya berselang antara dua generasi yang berurutan. Perubahan yang terjadi sangat drastis dan signifikan ‘hanya’ dalam kurun 35 tahun (selisih umur saya dan bapak saya). Saya mencoba berandai-andai ke depan. Selisih umur saya dengan anak saya 30 tahun. Saya tak bisa membayangkan bagaimana wajah dunia ini tiga dekade mendatang. Pasti lebih sophisticated dan juga complicated. Saya berharap kami bisa menghadapi masa depan dengan sebaik-baiknya.

(Pikiran-pikiran ini berseliweran di kepala saya saat Minggu malam kemarin saya merenung tentang masa lalu yang indah yang telah saya lalui bersama almarhum bapak saya)


.

32 comments:

  1. Halo Edwin,
    Tulisan yang sangat menarik, dan mengingatkan saya pada ayah saya yang saat ini berusia 80 tahun. Banyak sekali perbedaan pola berfikir
    tentang perbagai kejadian selama berpuluh-puluh tahun yang telah dilewati khususnya oleh ayah dan saya.
    Tapi jauh lebih banyak lagi persamaan diantara ayah dan saya.
    Persamaan-perbedaan menjadi dasar dalam membesarkan anak saya sekarang.

    BalasHapus
  2. LoL..sempet kepikiran nih kaya gini. Tapi, ya sudahlah hidup bukan untuk dipikirkan saja tapi untuk dijalani.

    Ohya,,untuk masalah presenter jaman sekarang,,huihhh kemunduran dunia broadcast banget. Olga, Raffy, Luna Maya, Oky Lukma, etc..they should learn more about presenting before they walk as presenter. Pertama, kata-katanya banyak yang tidak mendidik (bagaimana mgkin sebuah hinaan atau celaan bisa dianggap sebagai joke yang lumrah?). Kedua, penggunaan tangan/kaki untuk sekedar memukul kepala, mencubit, dll dianggap hal lumrah juga untuk membuat suasana menjadi lebih humoris (? big question). Ketiga, masih sedikitnya pengetahuan mereka tentang acara yang mereka bawa. Damn, jgn blg mereka menjadi presenter hanya sekedar nama dan tampang saja.

    BalasHapus
  3. menyentil nih...
    nyari acara jadul masih ada yg OL (di internet) gak ya?
    kangen TVRI...

    BalasHapus
  4. hidup selalu berubah, semoga perubahannya ke arah yg lebih baik.
    tapi kalau melihat, seperti yg telah ditulis di atas, apa yg tidak wajar dianggap hal yg lumrah...bingung juga...
    bagaimana dgn anak2 kita? dgn generasi penerus nantinya? dgn negeri tercinta ini?

    maaf ngelantur...
    tapi artikelnya untuk renungan boleh juga.
    makasih sharingnya.

    BalasHapus
  5. wah banyak yg berbeda yah jaman dulu dan sekarang
    iyah aku juga merasakan
    kaya dulu penyayi cilik ya nyanyinya lagu anak kecil tp kalo sekarang nyanyi lagu orang dewasa *doh*

    BalasHapus
  6. Betapa cepatnya zaman berganti...
    Hal2 yg dulu dianggap tabu kini makin 'digemari'

    BalasHapus
  7. Siapkan hati mulai sekarang mas.. untuk menghadapi 'dunia yang tak terduga' yang akan dibawa oleh anak2 hehehe

    BalasHapus
  8. Benar sekali mas Edwin, memang sangatlah berbeda jauh sekali dengan penampilan2 Host jadul & sekarang. Saya juga kurang begitu sreg bila nonton acara2 yang dibawakan oleh Host yang kurang sopan dalam tingkah lakunya. seharusnya sebagai panutan harus bisa mendidik dan menjaga kesopanan serta wibawanya. saya sangat salut dengan artis2 tempo dulu yang selalu menempatkan kesopanan & keramahtamahan di nomor satukan.
    trims atas infonya sudah mengingatkan, sukses selalu n tetap semangat.

    Sesuatu yang baik, belum tentu benar.
    Sesuatu yang benar, belum tentu baik.
    Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga.
    Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus.

    BalasHapus
  9. zaman telah berubah demikian pula dengan tata-cara kehidupan ikut berubah, hal-hal yang dulu tabu atau merasa risih untuk dilakukan sekarang sudah merupakan hal yang biasa, semoga saja iman dan moralitas kita bisa menjadi filter bagi semua perubahan itu. Salam

    BalasHapus
  10. Iya tuh...saya pernah juga lihat rekaman latihan club di luar sana. Mereka dilatih cara menghiperbolakan jatuh ketika di jegal.

    BalasHapus
  11. penuh semangat dan pantang menyerah....tetap postingkan semua pengalamanmu tuk menjadi pelajaran bagi orang lain.....

    BalasHapus
  12. wah mantap juga ni infonya,,, terima kasih gan salam kenal aja gan,,

    BalasHapus
  13. mantap juga ni ceritanya,,
    terima kasih buat infonya,,

    BalasHapus
  14. nah btapa cepatnya jaman yang kita jalani ini , semua memang sudah berubah gan

    BalasHapus
  15. wow keren juga tuh ceriteranya ,thanks infonya

    BalasHapus
  16. kren jg tu crita'y,
    nice info

    BalasHapus
  17. thanks ya buat artikelnya..bagus banget..!

    BalasHapus
  18. ya..hari berganti hari,bulan berganti bulan,tahun berganti tahun...! zaman sudah mulai berubah...! tapi kita harus tetap semangat,optimis, dan tetap waspada...!

    BalasHapus
  19. kalau saya sih ingin nya terus mengikuti perkembangan zaman..biar nanti tidak ada perbedaan dengan anak saya....

    BalasHapus
  20. bagus banget artikelnya .. semoga bermanfaat

    BalasHapus
  21. bener2, sepak bola sekarang sudah penuh drama.

    BalasHapus
  22. bener itu mas,, sekarang sudah tidak terkontrol lagi sikap apa yang harus dipake..

    BalasHapus
  23. Sangat Indah Memang Mengenang masa Lalu,,,
    Masa saat Bersama dgn orang yg Kita Cintai yg Kini Secara Raga Tak Ada Lagiii...

    KehiDupan Akan terus berjalan ZAMAN Pun akaN Semakin MengaLami Perubahan,,,,

    Tinggal Kita'a saja yg Bisa MemPersiapkan semua'a dgn baik agar kehidupan di masa dpn yg akan kita lalui tidak menemukan aral rintangan yg menyulitkan :)

    BalasHapus
  24. Budaya timur masa lalu sangat sopan, beda dengan sekarang yang sudah terkontaminasi

    BalasHapus
  25. kapan negara kita bisa berubah ya sobat....

    BalasHapus
  26. Siapkan hati mulai sekarang mas.. untuk menghadapi 'dunia yang tak terduga' yang akan dibawa oleh anak2 hehehe

    BalasHapus
  27. itu pasti bapak akan alami juga bersama anak nantinya

    BalasHapus
  28. ya zaman selalu berubah mengikuti perkembangan yang ada

    BalasHapus
  29. terima kasih atas informasinya

    BalasHapus

 
Toggle Footer
Top