15 Maret 2010
45 comments

Ayah Paruh Waktu

Senin, Maret 15, 2010
Kerja paruh waktu, pasti sudah jamak didengar. Di situ kita tidak perlu mencurahkan semua waktu kita untuk bekerja. Hanya paruh waktu. Malah, ada yang kalau sempat baru bekerja. Maknanya, ada banyak waktu yang bisa diberikan buat anak, bagi cowok yang sudah berumah tangga dan punya ‘buntut’, tentunya ^_^

Tapi kalau kemudian ada istilah ‘ayah paruh waktu’, ini yang ‘gawat’. Bisa-bisa menyediakan waktu dan perhatian buat anak hanya kalau sempat. Atau cuma sambilan malah :D Dan dengan berat hati saya katakan, kasus ini menimpa saya. Tapi saya perlu menggarisbawahi kalau ‘status’ saya sebagai ayah paruh waktu tidaklah ekstrem. Masih dalam batas kewajaran. Cuma, ya itu, kasihan melihat anak saya karena jarang bercengkerama. Pagi cuma ada beberapa menit, kalau malam juga beberapa menit. Malah seringkali Rasha, anak saya, sudah tidur saat saya pulang kerja. Ini diperparah dengan ‘ulah’ bundanya yang pulang kerja jauh lebih malam dari papanya. Jadi, ternyata kami berdua adalah orang tua paruh waktu :D

Tapi saya ingin membatasi topik postingan ini khusus untuk ayah saja. Dan saya jadi bertanya dalam hati, apakah para ayah yang lain juga mengalaminya, ya? Supaya tidak terus penasaran, saya pun bertanya ke dua sobat blogger saya, yang notabene ayah dari anak berusia 2-4 tahun. Sama seperti saya. Pengin tahu bagaimana ungkapan hati mereka, ini dia ^_^


Budi Setiawan, Cibinong, Bogor:
Sebagai seorang ayah dari satu orang anak laki-laki, saya sangat menyadari bahwa sedikit sekali waktu yang dapat saya berikan bagi keluarga. Sebagai seorang yang sedang merintis karir di bidang pendidikan, banyak waktu yang saya habiskan di kampus. Hampir setiap hari dari senin sampai sabtu, saya pulang antara jam 18.00 - 20.00. Sebenarnya sih saya sudah bisa pulang pada jam 17.00, namun dikarenakan saya memiliki pekerjaan sampingan dan di rumah saya tidak memiliki komputer, terpaksa pekerjaan tersebut saya kerjakan di kampus. Fasilitas di kampus juga saya manfaatkan untuk "browsing" materi bahan ajar, dan terkadang sambil update blog.

Upaya yang saya lakukan agar dapat meluangkan waktu bersama anak adalah:
1. Saya upayakan minimal dalam 2 kali dalam 1 minggu, mengajak putra saya yang baru berumur 2 tahun 3 bulan untuk belajar Shalat Maghrib di Masjid
2. Setiap minggu saya mengajak anak istri untuk berjalan-jalan ke taman kota, hiburan murah meriah
3. Pagi hari adalah bagian saya yang memandikan anak
4. Malam hari kalau anak saya belum tidur, saya ajak untuk mewarnai buku gambar
5. Di kala senggang sama2 menonton film kartun kesayangan anak
6. Setiap hari saya selalu menelpon anak istri di rumah untuk sekedar menanyakan kabar dan hal lainnya.

Itulah beberapa hal yang saya lakukan agar tetap dapat berkumpul dan membagi waktu bersama keluarga, di tengah-tengah kesibukan yang cukup padat.


Witho Lahope, Manado:
Wah aku bingung mas, soalnya aku tidak kerja kantoran hehehe. Justru istriku yang kerja, dan aku jaga anak, karena aku kerja malam hari dan malah anakku sering ikut. Justru jadi kebalikannya nih. Tapi aku ada sedikit sharing, semoga bermanfaat:

Setengah delapan malam kurang lima belas menit. Masih 2 jam 15 menit sebelum istriku pulang kerja. Kusandang gitar elektrik di bahu kananku dan tas berisi kabel dan efek di punggungku. Tangan kiriku menggandeng tangan anakku yang berusia 4 tahun. Wajahnya ceria, tahu bahwa ia akan ikut ayahnya bekerja. Tak lupa, mobil-mobilan kesayangannya ikut di dalam kantong celana yang kebesaran.

Panggung itu terletak di tengah-tengah deretan cafe yang memanjang di pinggiran pantai Manado. Anakku bersorak girang melihat mobil-mobil tune-up yang lewat di depan cafe. "Seperti mobil di game Need for Speed", katanya. Aku tersenyum melihatnya melompat-lompat di bagian belakang panggung, asyik dengan imajinasinya sendiri. Saat manggung, sesekali aku melirik ke belakang, melihatnya asyik bermain, kemudian di saat yang lain ia duduk sambil tertawa memperhatikan diriku.

Lima belas lagu berlalu, satu sesi selesai, saatnya break. Kulihat dia tertidur sambil duduk di kursi, di tengah hiruk-pikuk bunyi musik dan deru mobil di malam hari.

Rasa bersalah yang besar menghantam diriku...


Nah, ternyata saya tidak sendirian ya. Apa yang dialami Mas Budi dan Mas Witho –dan juga saya- adalah potret kehidupan sekarang. ini adalah realita. Yang penting jangan sampai kita tak pernah sedikitpun menyentuh anak kita...

45 comments:

  1. makasi udah berbagi bang,bisa jadi pelajaran buat saya kelak.

    BalasHapus
  2. Aku tercenung membacanya mas... miris sekali menyadari anak-2 yang memiliki waktu yang kurang bersama kedua orang tuanya.
    Hemmm... aku termasuk diantaranya, hanya saja untungnya aku sudah bisa ketemu anakku di sore hari.

    BalasHapus
  3. Begitulah, kerasnya hidup dan tingginya tuntutan yang harus dipenuhi seringkali 'memaksa' kedua orang tua bekerja keras membanting tulang demi mencukupi kebutuhan anak-2nya, meskipun anak juga yang kemudian menjadi korbannya, mas.

    BalasHapus
  4. realita dan tuntutan hidup rasanya, ditengah keadaan seperti sekarang. tapi masih bersyukur, ada waktu buat anak2 walau sebentar tapi itu sangat berarti.

    BalasHapus
  5. bagi waktu, bagi tugas, saling bekerja sama antara ibu bapak, memberi kasih sayang bersama2 pada anak.
    tertegun baca artikelnya.

    BalasHapus
  6. Ayah-ayah yang hebat yah ^____^

    BalasHapus
  7. Ada banyak sekali pasangan yang seperti ini utamanya yang tinggal di kota-kota besar. Mereka berangkat kerja pagi-pagi sekali dan pulang malam hari. Kedua orang tua mereka bekerja semua. Kasihan dengan anak-anak mereka. Dilematis sekali. Namun bila anak sudah agak besar dan dapat diajak komunikasi, sarana seperti ponsel sangat membantu untuk mencurahkan perhatian terhadap anak. Tentunya dengan adanya hari libur Sabtu dan Minggu, orang tua dapat memanfaatkan waktu secara penuh buat anak-anaknya.

    BalasHapus
  8. haduh, jadi inget anak sendiri mas. :(
    iya, jangan sampai lah kita melupakan jasa mereka mewarnai hari-hari kita..

    BalasHapus
  9. gitu yah mas, jadi pelajaran berharga nih :) tq dah berbagi :) btw awardnya dah tak pajang di "only to c u (paris on java)" :)

    BalasHapus
  10. PELAJARAN YANG SANGAT BERHARGA...
    waktu untuk bercengkrama bersama keluarga memang harus ada mas Edwin...

    BalasHapus
  11. apa yang dialami Pak Edwin sama dengan saya, banyak waktu yang dihabiskan di Kantor, rata2 sampai dirumah sudah jam 20.00, namun demikian dengan waktu yang sangat terbatas saya ajak anak untuk berdialog ringan seputar teman2 sekolahnya saya usahakan sebagai teman bermainnya. Btw artikel yang sangat menarik ! dan bermanfaat ! kita bisa saling sharing. Salam

    BalasHapus
  12. halo Edwin,
    Rupanya kita benar2 senasib ya, isteri-isteri kita juga sama. Tapi saya perhatikan anda selalu beri kompensasi bagi anak pada hari-2 libur.
    Yang penting Quality Time, walau sedikit tapi sangat maksimal perhatiannya.

    BalasHapus
  13. Tips yang bagus buat menyelakan waktu buat anak kawan

    BalasHapus
  14. Jalan jalan nih...

    salam sukses semua buat para blogger

    keep posting

    BalasHapus
  15. alasan ini pula yang bikin saya berhenti kerja dan memutuskan nyari duit di rumah... :D

    BalasHapus
  16. anak-anak butuh waktu yg banyak dengan orangtuanya supaya mereka tau kalo ortunya sayang sama mereka

    BalasHapus
  17. Tulisan yang sangat menarik, Mas Edwin...
    Bener Mas...memang itulah realitanya...
    Salut untuk para ayah, yang penting waktu yang ada dikelola sebaik2nya.

    Suami saya bukan orang kantoran, pulangnya juga ngga tiap hari, makanya saya memutuskan jadi perempuan rumahan...

    BalasHapus
  18. salam sobat
    iya memang "gawat" kalau disebut ayah paruh waktu,,memberkan perhatian pada anak hanya kalau ada kesempatan waktu.
    trims sharingnya mas EDWIN.

    BalasHapus
  19. sekedar kunjungan...

    menyapa sobat sobat kita

    keep posting and happy blogging

    BalasHapus
  20. realitasnya memang seperti itu,apalagi di kota besar..anak2nya tuh yang repot

    BalasHapus
  21. saya kurang setuju kalo dibilang ayah paruh waktu. memang realitanya harus begitu bertujuan tuk ibadah juga, demi keluarga di rumah. di sela2 kesibukan kantor kan bisa berhubungan dengan putra/i dirumah via telp / HP / YM atau lainnya. kesempatan baik bila datang hari libur.

    semoga sukses selalu Mas Edwin n tetap semangat

    BalasHapus
  22. semoga suatu saat nanti, aku bs menjadi ayah yg hebat buat anak2 ku...

    BalasHapus
  23. Halo mas edwin.. maaf baru bisa memberikan komentar di blog yg inspiratif ini... Semoga kita semua dapat menjadi ayah yang senantiasa memberikan yang terbaik dan menjadi teladan serta kebanggaan bagi anak dan istri kita... amiin yaa rabbal alamiin...
    Salam sukses
    Budi Setiawan

    BalasHapus
  24. mas edwin pa kabar? semakin sibuk ya? hingga menjadi ayah paruh waktu?

    membaca tulisan ini saya jadi kepikiran mas, jangan2 saya nanti klo sdh menikah jdi ayah paruhwaktu juga. Karena melihat kondisi ekonomi dan pekerjaan saya saat ini bukan tidak mungkin hal ini juga akan terjadi.

    BalasHapus
  25. besarnya tuntutan hidup n makin beratnya pekerjaan, mungkin saja berkemungkinan besar membuat kita sebagian menjadi ayah paruh waktu.. . thanks mas buat "celotehnya" membuat mata saya terbuka.. .. :)

    BalasHapus
  26. wah mantap uth infonya,,, salam kenal aja mas,,, langsung ke tkp

    BalasHapus
  27. terima kasih banyak gan buat infonmya semoga bermanfaat salam kenal aja gan

    BalasHapus
  28. terima kasih banyak nih gan informasinya semnoga bermanfaat gan

    BalasHapus
  29. sayang ya..para orangtua bekerja keras membanting tulang untuk anak-anaknya ..tetapi anak-anak ditelantarkan tanpa ada kasih sayang dari orangtua..! ketemu sama anak2 saja hanya beberapa menit dalam sehari..! wah...!

    BalasHapus
  30. jangan sampai ayah tidak ada waktu sedikitpun untuk anak''
    karena anak'' juga sangat membutuhkan perhatian ayah

    BalasHapus
  31. ya semangat,buat para ayah yang mempunyai paruh waktu...! yang penting anak jangan sampai terlantar atau haus kasih sayang dari sang ayah..!

    BalasHapus
  32. Sulit ya kalau kita punya aktivitas yang lumayan padat,,,, Kalau saya sendiri alhamdulillah banyak waktu dirumah, dan kebetulan baru menikah jadi belum di karuniai seorang anak,,, Yah moga2 sharing diatas bisa menjadi pelajaran buat saya,,, terimaksih semuanya,,,

    BalasHapus
  33. Memang sulit yah kalau kedua orang tua super sibuk semua,,, tapi saya salut sama bapak yang masih bisa meluangkan waktu mesti hanya sebentar buat anak,,, semoga anaknya kelak jadi anak yang soleh dan berguna bagi nusa, bangsa dan agama

    BalasHapus
  34. Sebagai orang tua mungkin memang sudah tanggung jawab kita untuk tetap menjaga dan memberikan kasih sayang kepada anak,,,, Saya salut sama orang tua yang meskipun sibuk tetapi masih sempat menyisihkan waktu disela kesibukannya untuk berkumpul dengan keluarga dan anak-anak...

    BalasHapus
  35. Bermanfaat bgt nich infonya
    Maju terus buat para ayah..!!!

    BalasHapus
  36. saya sangat salaut untak ayah ayah di dunia yg tak pernah leleah untuk memberikan nafkah keluarga ,

    BalasHapus
  37. perhatian ayah ke anak memang bukan prioritas karena figur ayah sewajarnya adalah mencari nafkah dan tugas sang ibulah yang lebih menyayangi dan memperhatikan sang anak,

    biar bagaimanapun sebagai seorang ayah juga harus memberikan kasih sayangnya dengan cara tersendiri misal membelikan mainan mobil-mobilan seperti yang pak witho di manado itu.

    BalasHapus
  38. great points altogether, you simply gained a new reader. What might you recommend in regards to your put up that you simply made some days in the past? Any sure?

    BalasHapus
  39. Syukurlah saya bekerja dirumah, jadi saya dapat bersama kedua anak saya setiap saat.

    BalasHapus
  40. You need to participate in a contest for the most effective blogs on the web. I will recommend this website!

    BalasHapus
  41. makanya aq kerja di rumah biar bisa dekat sama keluarga

    BalasHapus
  42. terima kasih atas informasinya

    BalasHapus

 
Toggle Footer
Top