13 Mei 2009
7 comments

Bawa Cash, Risiko Besar Petugas Bank

Rabu, Mei 13, 2009
JUMAT lalu, 8 Mei 2009, terjadi perampokan di Medan, Sumatera Utara, yang menyebabkan satpam bank gugur dalam tugas. Firdaus, satpam bank BNI Cabang Kuala Tanjung Medan, meninggal dunia setelah diterjang peluru yang dinyalakkan dari pistol perampok.

Kejadian yang merenggut nyawa Ucok, panggilan akrab Firdaus, terjadi saat ia melakukan pengawalan pengiriman uang dari kantor kas Indrapura menuju kantor cabang Kuala Tanjung. Ucok menumpang mobil kantor yang berisi rombongan pegawai yang terdiri dari 2 teller, seorang Pgs Penyelia (supervisor), dan sopir.


Mobil baru saja melaju 15 menit. Tanpa diduga tiga motor mengepung mobil di sebelah kanan, kiri, dan belakang. Untuk menghentikan mobil, perampok menembak sopir. Beruntung, peluru ‘hanya’ mengenai bahunya. Tapi tak urung ia tersungkur dan membuat mobil terhenti. Segera, Ucok keluar dari mobil. Namun belum sempat ia berbuat sesuatu, bahunya ditembak oleh perampok, sehingga uang dapat dirampas dengan leluasa. Tak cukup, setelah berhasil menguasai uang, perampok menembak dada Ucok yang membuatnya pergi meninggalkan dunia ini.

Sopir kini dirawat di rumah sakit. Teller dan supervisor kini mengalami trauma. Dan Ucok sang satpam, kini telah pergi selamanya. Empat buah hati ditinggalkannya, termasuk si balita delapan bulan.


Cari nafkah, taruhan nyawa

Tak bisa dipungkiri, kejadian di atas selalu menghantui para petugas bank yang menjalankan tugas outdoor, membawa uang tunai. Menanggung karung atau peti berisi uang berbanding lurus dengan risiko yang juga harus ditanggung. Pelaku kejahatan pun menjadikannya sasaran empuk perampokan.

Mengapa? Ini karena perampok bank lebih suka menarget mangsanya di luar, jauh dari lokasi bank. Jarang sekali ada gerombolan perampok menyerbu bank, memakai penutup muka, menyuruh petugas dan nasabah tiarap, sambil menodongkan senjata, lalu menguras brankas; seperti di film.

Dalam beberapa kasus sih ada. Tapi jarang. Itu karena si perampok harus sangat terorganisir dan beraksi secara sangat sistematis. Risiko bagi mereka juga besar. Jika aksi mereka ketahuan, polisi bisa dengan cepat menggerebek dan mengisolasi mereka di dalam gedung bank. Semua pelaku bisa tertangkap basah.

Karena itu mereka lebih suka beraksi di luar. Nasabah yang baru mengambil uang di bank dikuntit dan ‘disikat’ saat lengah, di tengah keramaian. Pun demikian dengan petugas bank yang membawa uang seperti kasus di atas.

Kan ada polisi yang mengawal di dalam mobil? Atau satpam organik yang dibekali senjata api? Iya sih. Tapi coba kita pikir, seberapa konstan mereka bisa waspada di dalam mobil? Apakah mereka bisa tahu jika ada orang yang hendak merampok mereka?

Saya sih kurang sepakat…

Dulu saya sering ditugasi membeli banknotes USD ke kantor cabang lain. Teknisnya sama. Saya diantar sopir dan dikawal polisi. Kadang-kadang dikawal satpam organik. Beberapa tahun lalu saya juga pernah ikut menemani teman-teman teller menjalankan piket di hari Sabtu. Tugasnya menjemput setoran uang salah satu nasabah inti bank kami.

Saat itu saya merasakan kami seperti sedang melakukan perjudian besar. Kami tidak tahu, mungkin saja di antara para pengguna jalan yang berseliweran ternyata ada perampok yang sedang mengincar kami. Kalau misalnya iya, saya yakin polisi atau satpam yang mengawal kami tidak berkutik. Kejadiannya ya persis dengan kasus di atas.

Kita mau berharap seperti apa lagi? Itu sudah sesuai prosedur standard. Apakah kita akan menuntut setiap melakukan cash pickup harus dikawal fore rider?

Atau setidaknya, disediakan mobil khusus untuk keperluan cash pickup seperti mobil perusahaan sekutitas yang didesain untuk menunjang keamanan penumpangnya. Tapi bisakah?

Jadi, akhirnya kita hanya bisa berdoa semoga hal itu tidak terjadi pada diri kita…



7 comments:

  1. ya memang itulah resiko petugas bank,
    tidak hanya di medan tapi resiko lebih tinggi terjadi di ibukota coba tengok di Jakarta,
    bisa saja di tengah jalan mobilnya di rampok , meski sudah di kawal polisi di dalam mobil namun tetap saja masih ada kemungkinan di di rampok tetap masih ada karena kini banyak rampok yang mempunyai senjata api jadi tidak segan-segan untuk membunuh atau melukai korbannya.

    BalasHapus
  2. biar di lengkapi satpam organik yang dibekali senjata api , tapi kan tetap saja perampoknya juga mempunyai senjata api ?
    apa harus mobilnya di lengkapi alat keamanan canggih biar tidak tembus peluru atau mudah di bobol untuk menjaga keselamatan petugas banknya ?

    BalasHapus
  3. smoga menjadi pelajaran aja gan

    BalasHapus
  4. Penjahat ada dimana-mana, seharusnya pengawalan lebih ketat dengan melibatkan anggota kepolisian

    BalasHapus

 
Toggle Footer
Top