22 Juni 2009
4 comments

Akankah Sepak Bola Indonesia Bangkit KALI INI?

Senin, Juni 22, 2009
PARA gibol (penggila bola) Indonesia sudah tak sabar menunggu tanggal 20 Juli. Ya, kita kedatangan Manchester United, raksasa sepak bola dunia dari Inggris. United akan bertanding dengan tim Indonesia All-star dalam rangkaian Tur Asia 2009 sebelum memulai kompetisi liga Inggris Agustus nanti.

Antusiasme penonton Indonesia pasti besar. Stadion Gelora Bung Karno yang menjadi saksi bisu perhelatan itu pasti penuh sesak. Mereka tak akan mau melewatkan kesempatan langka ini. Melihat langsung aksi pemain kelas dunia idola mereka yang selama ini hanya bisa disaksikan lewat layar kaca.

Seperti kebetulan, euforia sepak bola itu sudah ‘dipanas-panasi’ sejak sekarang. Menyambut liburan sekolah, pekan lalu mulai diputar Garuda di Dadaku, film nasional yang mengisahkan upaya keras seorang anak laki-laki mewujudkan cita-citanya menjadi pemain sepak bola hebat, yang kelak mengenakan seragam tim nasional dengan logo burung garuda di dada kiri.

Biasanya nih, kalau habis nonton bioskop, sensasi para tokoh di film yang habis ditonton itu melekat di hati kita. Keluar dari gedung bioskop, bisa jadi dada anak-anak dipenuhi bunga-bunga heroisme Bayu, sang tokoh utama Garuda di Dadaku. Kepingin jadi pemain bola juga. Kalau misalnya sang ayah yang menemani nonton juga gibol, bisa-bisa muncul impian anaknya bisa jadi seperti Cristiano Ronaldo.

Film Garuda di Dadaku sendiri ditopang dengan kampanye nyata pembibitan bakat sepak bola usia dini, yaitu dengan melibatkan Sekolah Sepak Bola Indonesia (SSI) Arsenal yang memegang lisensi dari klub Arsenal, kompatriot Manchester United di negeri Ratu Elizabeth sana. Ditambah lagi dengan dukungan sebuah perusahaan produsen sabun mandi yang mengadakan pemilihan bibit berbakat bekerja sama dengan SSI Arsenal itu.

Selain misi komersil, sebenarnya mereka juga membawa misi mulia, yaitu mengangkat persepakbolaan Indonesia dari gelapnya jurang kering prestasi. Karena hingga kini ada pertanyaan klasik yang belum bisa dijawab: “Mengapa kok susah sekali mencari sebelas orang yang bisa sepak bola di antara 250 juta penduduk Indonesia?

Mengherankan memang. Indonesia adalah negara berpenduduk besar yang mayoritas ‘melek sepak bola’. Tapi bicara soal prestasi, kita dari dulu sampai sekarang tetap memble.

Upaya untuk bangkit sudah dilakukan. Biaya besar dikeluarkan untuk membentuk tim tangguh. Awal dekade 1990-an, PSSI mengirim dua tim usia muda ke Italia untuk mengikuti kompetisi junior si sana, yaitu tim Primavera dan Baretti. Sekembalinya dari negeri Pizza, dua tim yang sempat digadang-gadang menjadi tim masa depan sepak bola Indonesia itu dibubarkan. Beberapa pemain menjadi tulang punggung timnas Indonesia di akhir 1990-an. Namun, kekuatan mereka terbatas untuk level Asia Tenggara saja. Itu pun ada di bawah bayang-bayang Thailand.
Mungkinkah apa yang dilakukan SSI Arsenal, pemilihan bintang sepak bola cilik, produser film Garuda di Dadaku, hingga mendatangkan Manchester United menjadi ‘ikhtiar’ untuk mengakhiri ‘kutukan’ sepak bola Indonesia? Mencoba membantu PSSI untuk mengubah mindset masyarakat Indonesia yang hanya pandai ngomong tentang bola tapi tidak bisa bermain bola?

Mengubah mindset itu penting. Sebab kita tak akan bisa pandai bermain bola hingga ke level dunia kalau bersikap seperti Kurniawan Dwi Julianto dahulu. Dikontrak klub FC Lucern (Swiss) seharusnya bisa menjadi batu loncatan untuk mengembangkan karir di Eropa. Namun ketidakmampuan menjaga profesionalitas dan hanyut dalam gaya hidup yang salah membuat karirnya di sana hancur.

Atau seperti ‘Bejo’ Sugiantoro yang sejatinya libero handal tim PSSI Baretti di Italia. Belum genap tiga bulan di Italia sudah tidak betah dan balik kampung. Menurut pengakuannya, ia tidak tahan dengan hawa dingin Eropa.

Nah, kalau sudah begitu bagaimana bisa jadi pemain top dunia? Akankah sepak bola kita bangkit?






4 comments:

  1. MU ke Indonesia sudah saya tunggu, tapi sayang CR7 tidak ada lagi.

    Saya juga prihatin dengan Timnas kita yang tak kunjung berprestasi. Para insan perfilman Indonesia dan komikus harus membantu kampanye sepakbola kepada anak-anak Indonesia, seperti Jepang dengan film Tsubasa dan komik-komik sepakbola mereka. Itu akan meningkatkan minat anak-anak terhadap sepakbola dan membuat mereka bercita-cita untuk tampil di pentas dunia.

    Semoga saja kita akan bisa melihat tim Merah Putih berlaga di Piala Dunia.

    BalasHapus
  2. Asal sepak bola tidak dijadikan pengalihan isu dan di politisasi, sepak bola Indonesia bisa maju

    BalasHapus
  3. berharap banget tim sepakbola bisa bangkit lagi kayak dulu. kalo semua pihak menjalankan porsi penanganan tim garuda dengan benar dan bijak, saya rasa bukan tidak mungkin.

    BalasHapus

 
Toggle Footer
Top