23 Mei 2009
16 comments

iB: Gaya Hidup Baru dalam Berbanking

Sabtu, Mei 23, 2009
iB: Beyond banking! Tiba-tiba saja tagline itu menyentak perhatian banyak orang, dan menghadirkan ikon baru di tengah arus simbol-simbol lifestyle masyarakat modern semisal iPod, iPhone, dan iMate yang menjanjikan gaya hidup yang personal, easy life, efisien, serba cepat, dan mobile.

iB (baca: ai-Bi) hadir sebagai ikon dari industri Islamic Banking (perbankan syariah) di Indonesia yang menawarkan produk serta jasa bank yang lebih beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariasi. Sehingga, setiap individu dengan berbagai kebutuhan keuangannya yang khas bisa mendapatkan solusinya di iB.


Branding iB sebagai perbankan yang lebih dari sekadar bank (beyond banking) akan dibentuk melalui positioning baru dari iB yang menampilkan citra bank syariah sebagai bank yang memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak: nasabah dan bank. Pencitraan baru iB yang dimotori regulator dan didukung pelaku iB mulai menampilkan wajah perbankan syariah yang kini lebih terbuka dan inklusif. Di mana keunggulan khas iB (yaitu keberagaman produk dan kekayaan skema keuangan) bisa dirasakan oleh seluruh golongan masyarakat tanpa terkecuali. Memasuki tahun 2009, strategi pengembangan pasar tersebut terbukti berhasil meningkatkan awareness dan antusiasme masyarakat untuk mengenal dan mencoba layanan iB.

Bagi praktisi iB, perkembangan tersebut terakhir merupakan berkah yang patut disyukuri. Namun demikian, di sisi lain menajdi tantangan besar bagi praktisi bank syariah untuk membuktikan dirinya sanggup men-deliver apa yang dijanjikan. Karena itu ada pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan oleh pelaku iB, yaitu:

+ Konsistensi komunikasi identitas baru iB sebagai sistem perbankan yang menguntungkan nasabah dan bank, melalui promosi dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat tentang produk serta skema-skema keuangan yang ditawarkan, misalnya tersedianya produk sewa-beli (leasing) maupun sewa untuk KPR-iB, produk gadai iB, produk pembiayaan pendidikan dan kesehatan (multijasa iB), kartu kredit iB, dan lain-lain.

+ Keberagaman produk dan jasa iB harus didukung oleh kultur yang kondusif bagi proses inovasi yang kreatif, baik di dalam individu masing-masing bank maupun sebagai kultur industri bank syariah secara keseluruhan. Business process yang memacu kecepatan inovasi produk-produk baru harus dikembangkan, mulai dari proses ide, perancangan prinsip dan skema keuangan, perizinan, dan peluncuran/ komersialisasi produk iB.

+ SDM dengan kompetensi lintas keilmuan, yaitu sebagai ahli investasi, ahli keuangan dan perbankan, beretika serta sekaligus memahami sharia compliancy adalah kelebihan iB dalam melayani nasabah dan menyajikan solusi yang lebih lengkap. Pemenuhan SDM dengan kompetensi lengkap seperti ini harus segera dilakukan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, melalui proses rekruitmen dan pelatihan.

+ Teknologi yang menjadi infrastruktur berbagai layanan iB, semisal jaringan ATM, mobile banking, internet banking, phone banking harus terus dikembangkan dan di-update mengikuti perkembangan teknologi terkini, untuk menyediakan layanan yang reliable.


Hermawan Kartajaya, Anggota Komite Perbankan Syariah/ Pakar Marketing
(Majalah Infobank, No. 362, Mei 2009)


16 comments:

 
Toggle Footer
Top